Lanskap olahraga profesional modern kini makin tidak mengenal batas negara. Strategi perekrutan talenta lintas benua menjadi pilar penting bagi banyak tim untuk mendongkrak performa mereka di level tertinggi. Fenomena ini terlihat sangat jelas dalam dua panggung yang berbeda, yakni persiapan Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia yang tengah menatap panggung dunia, serta geliat klub-klub National Football League (NFL) di Amerika Serikat yang gencar menjaring atlet dari berbagai pelosok bumi.
Darah Nusantara untuk Misi Piala Dunia
Sepak bola tanah air saat ini tengah memasuki babak baru yang menjanjikan. Kehadiran para pemain keturunan yang lahir dan besar di luar negeri memberikan suntikan tenaga yang amat signifikan bagi skuad Garuda. Mereka rata-rata ditempa oleh kerasnya sistem pembinaan akademi Eropa. Kini, para pemain tersebut memilih pulang untuk membela panji leluhurnya, sebuah langkah strategis mengingat Timnas Indonesia tengah berjuang habis-habisan di ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, termasuk dalam persiapan laga krusial menghadapi raksasa Asia, Jepang.
Salah satu nama besar yang baru saja merampungkan proses birokrasi kewarganegaraannya adalah Kevin Diks Bakarbessy. Bek tangguh milik klub Denmark, FC Copenhagen, ini lahir di Apeldoorn, Belanda, pada 6 Oktober 1996. Darah Maluku mengalir deras dalam nadinya melalui sang ibu, Natasja Dik Bakarbessy. Perjalanan kariernya jelas bukan sembarangan. Diks memulai langkah dari akademi Vitesse, lalu sempat mencicipi kerasnya Serie A Italia bersama Fiorentina dan Empoli pada rentang 2016 hingga 2019, sebelum akhirnya berlabuh di Denmark dengan durasi kontrak panjang.
Pemain yang nilai pasarnya menembus Rp69,53 miliar ini sebelumnya pernah membela Timnas Belanda di kelompok umur U-19, U-20, dan U-21. Namun, panggilan darah akhirnya membawa Diks ke Indonesia. Keputusan ini secara resmi mendapat lampu hijau dari Komisi XIII DPR RI dalam rapat kerja bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo serta Sekjen PSSI Yunus Nusi pada awal November lalu.
Jauh sebelum Diks bergabung, lini tengah Indonesia sudah lebih dulu diperkuat oleh sosok Thom Jan Marinus Haye. Gelandang kelahiran Amsterdam pada 9 Februari 1995 ini resmi menyandang status Warga Negara Indonesia (WNI) pada pertengahan Maret lalu. Ia mewarisi garis keturunan Nusantara dari sang kakek yang berasal dari Solo dan nenek dari Sulawesi.
Rekam jejak Haye di liga top Belanda sangat konsisten. Ia memulai debut profesional di AZ Alkmaar, lalu berkelana membela Willem II, sempat singgah sebentar di klub Italia Lecce, hingga kembali ke Belanda bersama ADO Den Haag dan NAC Breda. Performa gemilangnya saat berseragam SC Heerenveen memantapkan statusnya sebagai jenderal lapangan tengah yang tangguh. Kini, pemain dengan taksiran harga pasar Rp52,14 miliar tersebut melanjutkan kiprahnya bersama Almere City.
Jalur Berbeda di Panggung American Football
Menariknya, pola pencarian bakat internasional ini nyatanya tidak hanya memonopoli ranah sepak bola asosiasi. Di belahan bumi lain, kompetisi American Football (NFL) juga melakukan manuver serupa melalui program International Player Pathway (IPP). Tampa Bay Buccaneers baru saja membuat gebrakan untuk memperdalam kedalaman skuad pertahanan mereka. Setelah mengamankan jasa bek sudut Chase Lucas dan Kemon Hall, The Bucs mendatangkan sosok unik bernama Haggai Ndubuisi.
Berbeda dengan Diks atau Haye yang tumbuh nyaman di ekosistem sepak bola Eropa sejak usia dini, Ndubuisi memiliki jalan terjal yang sama sekali tidak biasa. Pria kelahiran Nigeria ini baru mengenal olahraga American football pada usia 18 tahun. Ia memelajarinya murni melalui tayangan YouTube. Berbekal rasa penasaran dan fisik yang mumpuni, ia mulai berlatih otodidak hingga bakatnya terpantau oleh UpRise Academy di Ghana pada tahun 2021, sebuah fasilitas pelatihan rintisan mantan bintang NFL, Osi Umenyiora, dan mantan pebasket Ejike Ugboaja.
Dari daratan Afrika, Ndubuisi terbang ke London untuk mengikuti kamp pelatihan resmi NFL. Inilah gerbang pertamanya memasuki kancah olahraga Amerika. Rute profesionalnya kemudian bergulir cukup dinamis. Pemain raksasa dengan tinggi hampir dua meter dan berat 135 kilogram ini sempat singgah di Arizona Cardinals sebagai pemain garis serang pada 2022, lalu pindah posisi menjadi pemain bertahan saat bergabung dengan Denver Broncos setahun kemudian.
Setelah sempat mencicipi liga alternatif UFL bersama San Antonio Brahmas, ia berpindah-pindah membela Washington Commanders dan New England Patriots, hingga akhirnya benar-benar merasakan panasnya laga resmi NFL. Momen bersejarah itu terjadi saat ia membela Houston Texans pada pekan ke-14, di mana ia mencatatkan total tujuh penampilan di lapangan dan menyumbang satu tekel krusial.
Bagi manajemen Buccaneers, perekrutan Ndubuisi adalah sebuah langkah cerdas. Berkat status khusus dari program IPP, posisinya tidak akan memangkas kuota utama 53 pemain aktif maupun batas 16 pemain tim latihan. Ia secara efektif mengisi ruang kosong yang sebelumnya ditinggalkan oleh pemain internasional asal Jerman, Lorenz Metz. Di markas Tampa Bay, Ndubuisi kini dihadapkan pada tantangan baru. Ia harus bersaing dan belajar banyak dari jajaran pemain bertahan elit seperti A’Shawn Robinson, Rakeem Nunez-Roches, serta sang bintang andalan, Vita Vea, demi mengukir namanya di kompetisi paling kompetitif di Amerika tersebut.