Kenapa Pemain Indonesia Garang di Usia Muda, Namun Layu Saat Usia Emas?

Sutan Diego Zico dan Rendy Juliansyah 

Timnas Indonesia tak pernah kekurangan bakat-bakat sepak bola muda dijenjang usia setiap tahunnya.

Bakat-bakat alami selalu bermuncukan dari pelosok negeri yang siap untuk mengharumkan negeri.

Namun yang jadi pertanyaan, kenapa bakat-bakat tersebut selalu menghilang diusia emas. Jawabannya karena uang, perempuan, dan star syndrome, benar itu sisi nonteknis.

Secara sisi teknisnya:

(Fisik, taktik, dan mental bertanding)

Mari ulas bersama,

1. Fisik didapat secara latihan daily, maksudnya latihan harian, bagus buruknya fisik pemain tergantung dua faktor, elemen SSB/klub yaitu dalam hal ini program dan fasilitas, kedua bawaan natural pemain (postur dan endurance), postur memang bawaan dan khas daerah region tertentu. 

Dalam arti rataan postur per-region sudah tertebak dan relatif tidak akan berubah jauh dalam puluhan atau ratusan tahun karena ini gen, tapi endurance (ketahanan tubuh) dapat dilatih dan tergantung pribadi atlet masing-masing, 

kalau endurance bagus, pemain cenderung tenacious (gigih, ngeyel), stamina tinggi dan disiplin, karena tanpa disipilin tak akan tercapai top endurance, Korea, Jepang, dan Vietnam adalah contoh negara dengan tipikal ini, sementara negara Timur Tengah lebih kepada fisikal postur tinggi dan power.

2. Taktik dan mental bertanding

 Indonesia pernah mengalami masa keb*dohan. Atau membiarkan bakat alam tak terawat, tertata di liga berjenjang. 

Namun, ntungnya sekarang lebih baik sudah ada Elite Pro Academy U16, sampai Elite Pro Academy U20, dulu dari Liga Kompas/Topskor (U16) jenjangnya jarang-jarang, langsung ke Piala Soeratin(U19) dan Pra PON (U23), kan sedikit sekali jenjangnya, padahal usia segitu butuh bermain banyak, ingat bermain untuk dapat menit bermain loh ya, bukan untuk juara dulu.

Saat juara nanti ditargetkan diusia setelah U19, dari usia U10-U16 yang utama itu dasar sepakbola, saat dasarnya kuat, mereka akan di kasih materi (taktik, fisik, dan menit bermain yang banyak), dan bertanding yang rutin, untuk mengasah mental bertanding.

Baru berjalan dikasih target juara dan mulai masuk ke menu yang menuntut mental keras dan usia setelah U20 masuk era semi pro.

Mental sudah siap

Dan tinggal makin mematangkan diri saat masuk usia profesional, dan akan matang sempurna di usia emas.

Jadi itulah jawaban kenapa anak muda kita layu lebih dulu, karena hal teknis tadi

(taktik, mental bertanding, fisik) belum kuat, tapi sudah diserang sama nonteknis yang tidak penting.

Syamsir Alam contohnya, ekspose media terlalu banyak, disaat dirinya harusnya fokus di Belgia, sudah diajak ke DC United demi pamor media juga, alhasil belum pulih mental dari cedera sudah dikasih tekanan dari sana sini dll...

Previous Post Next Post

Recent Posts