Mimpi Kushedya Hari Yudo, Mantan Tukang Gali Pipa, Kini Jadi Andalan Timnas Indonesia Era Shin Tae yong

Kushedya Hari Yudo mengikuti pemusatan latihan proyeksi Seagames 2021

Popularitas Kushedya Hari Yudo semakin meroket sejak tiga tahun lalu. Saat membela PSS di Liga 1 2019, penampilannya luar biasa memukau penonton.

Kushedya tampil 29 kali dengan koleksi lima gol dan empat assist. Padahal di klub sebelumnya, Persegres Gresik performanya tak terlalu mencolok.

Penampilan apiknya di PSS dibawa ke klub barunya kini, Arema FC. Dalam tiga laga di Liga 1 2020 yang akhirnya terhenti di tengah jalan, Yudo sudah mengoleksi dua gol dan satu assits.

Hasilnya, namanya masuk daftar panggil pemusatan latihan (TC) timnas proyeksi SEA Games 2021. Pekan ini diirinya dan rekan-rekannya di timnas sudah memasuki pekan ketiga TC.

“Pekan pertama intensitas latihan masing sedang. Namun saat ini kami sudah menerima menu latihan dari pelatih dengan intensitas tinggi,” tutur Kushedya di laman resmi PSSI.

“Selama mengikuti TC ini, kami tidak ada kendala meski komposisi pemain ada pemain senior dan muda. Kami saling mendukung dan membantu antar pemain. Saat ini saya dalam kondisi baik dan bugar,” tutur pemain kelahiran 16 Juli 1993 itu.

“Membela timnas Indonesia adalah mimpi saya sejak kecil. Begitu dipanggil mengikuti TC, saya tentu harus bekerja keras, disiplin dan meningkatkan kemampuan saya demi dapat bermain bersama timnas Indonesia,” ucap pemain yang sempat memiliki pekerjaan sampingan sebagai tukang gali pipa air itu.


Perjalanan karir Kushedya Hari Yudo.

Kushedya Hari Yudo merupakan pemain binaan Akademi Arema, mengalami masa sulit ketika belum bermain di Liga 1, tepatnya pada tahun 2017. Waktu itu Yudo merasa di titik jenuh bermain bola.

Yudo sempat membela tim kasta tertinggi, Persegres Gresik United tahun sebelumnya. Tapi, kariernya masih belum bersinar. Dia berpikir untuk mencari pekerjaan di luar sepak bola karena harus dapat pemasukan tetap untuk menghidupi keluarga. 

“Tahun itu saya sempat galau. Main bola kok begini-begini saja. Pengen kerja, karena sudah menikah. Jadi punya tanggung jawab menghidupi keluarga. Akhirnya saya terima tawaran Persekam Metro FC dan dapat pekerjaan honorer di PDAM Kabupaten Malang. Tapi tidak lama. Mungkin dua bulan. Waktu itu juga sempat gali pipa untuk pelanggan PDAM,” kenangnya.

Seperti diketahui, Persekam Metro FC membentuk tim dengan materi pemain 100 persen putra daerah, Kabupaten Malang. Manajemen tim berjulukan Macan Kumbang itu memberikan pekerjaan sampingan kepada pemainnya sebagai honorer di PDAM, Pemadam Kebakaran hingga Dispora.

Tujuannya untuk memberikan pemasukan tambahan kepada pemain diluar sepak bola. Karena gaji di tim itu tidak tinggi. Sehingga pemasukan tambahan pemain didapat dari pekerjaan honorer.

Tapi, Yudo merasa main bola di kasta kedua sepak bola Indonesia, sambil bekerja di PDAM, tidak bisa menjamin masa depannya. Dia kembali berubah pikiran dan mencoba merintis karir sepak bola lebih serius dengan merantau lagi.

Sebelum gabung Metro FC, Yudo pernah bermain di klub kasta ketiga, PS Badung, Bali, Persewangi Banyuwangi. 

Pada 2018, dia melanjutkan petualangan di Kalteng Putra. Di sanalah titik balik kariernya. Yudo berhasil membawa Kalteng Putra promosi dan dipinang klub kasta tertinggi, PSS Sleman tahun 2019.

“Sejak itu (di PSS) saya merasa percaya diri. Ternyata saya bisa bermain di kasta tertinggi. Alhamdulillah tahun ini bisa ke Arema. Tim asal saya,” sambungnya.

Previous Post Next Post



Ais Sekiya memberikan informasi seputar olahraga nasional maupun international.


Terima kasih telah mengunjungi Ais Sekiya, Nikmati beragam informasi dan hiburan yang kami sediakan setiap hari.

Jangan lupa follow Facebook kami ya