Ais Sekiya Media Online Olahraga dan Hiburan Indonesia var config = { //`true` jika pakai, `false` jika tidak adblock: { //Anti Adblock pakai: true, text: 'Matikan AdBlock pada browser untuk melihat konten blog ini.' }, halaman_bernomor: { //Halaman Bernomor di Homepage pakai: true, tampilan_per_halaman: 4, tampilan_nomor_navigasi: 2, firstText: 'First', lastText: 'Last' } };

Hilangnya Formasi 4-3-3 Timnas Indonesia Di Era Shin Tae Yong

Timnas U-19
Pelatih timnas Indonesia U-19 Shin Tae yong lebih memilih formasi 4-4-2 dalam beberapa pertandingan terahir bersama timnas U-19 dibanding menggunakan formasi 4-3-3 yang sudah menjadi ciri khas timnas dalam beberapa tahun terahir.

Pada era Indra Sjafri, timnas U-19 lebih sering menggunakan formasi 4-3-3 dan terbukti sukses meraih gelar Piala AFF U-19 2013.

Pada era Fakhri Husaini, sama halnya dengan Indra Sjafri, pria asal Bontang tersebut juga menggunakan formasi 4-3-3 dan sukses mengatar timnas U-19 melaju ke putaran final dengan label juara grup.

Namun, di tangan pelatih baru Shin tae yong, tak ada namanya penyerang sayap. Lini depan timnas U-19 langsung diisi dua striker sekaligus, yaitu antara perpaduan, Saddam Emiruddin Gaffar, Irfan Jauhari, Braif Fatari, dan M. Bahril Faresa.

Menurut eks gelandang timnas, Imran Nahumarury, memang begitulah dinamika formasi di sebuah tim. Siapa pun pelatihnya pasti akan berbeda konsep main.

Meski begitu, menurut Imran sebenarnya Shin tak meninggalkan sepenuhnya konsep 4-3-3. "Setiap pelatih punya taktikal berbeda. Di era modern saat ini sebuah tim harus memiliki banyak konsep bermain.

Didier Deschamps saat membawa Perancis juara Piala Dunia 2018 pun memiliki pola fleksibel," katanya.

"Shin main dengan 4-4-2 sebenarnya kan bisa juga berubah formasi menjadi 4-3-3, 4-4-2 diamond, atau 4-2-3-1. Semuanya tergantung lawan," ucap Imran yang kini menjadi asisten pelatih PSIS itu.

Lihat postingan ini di Instagram

Garuda muda

Sebuah kiriman dibagikan oleh ais sekiya (@ais.sekiya) pada

Related Posts

Follow by Email