Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Demi Piala Dunia U-20, Elite Pro Academi Harus Dilanjutkan, Baca Selengkapnya

Skuat persebaya U-20 saat menjuarai EPA 2019
Demi Tampil Maksimal di Piala Dunia U-20, Elite Pro Academy Juga Harus Digelar, Pengamat sepak bola, M Kusnaeni menyebut Elite Pro Academy harus digelar demi persiapan Timnas Indonesia ke Piala Dunia U-20 2021 memdatang.

Salah satu yang kenjadi alasan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 dilanjutkan adalah demi tujuan Timnas Indonesia yang tampil di Piala Dunia U-20 2021. Namun pemain usia di bawah U-20 terbilang merupakan kelompok minoritas di Liga 1 karena pemain-pemain kelompok usia tersebut lebih banyak tampil di Elite Pro Academy.

Kompetisi Elite Pro Academy disebut Kusnaeni selama ini sudah berjalan cukup baik dan harus dilanjutkan. Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, kategori usianya, menurut Kusnaeni, bisa dibagi hanya menjadi dua kelompok, misalnya U-16 dan U-18.

Pemain-pemain berlabel Timnas U-19 bisa tampil di kompetisi Elite Pro Academy sekaligus sebagai persiapan menuju Piala Dunia U-20 2021 mendatang.

"Jadi, intinya, kalau kita mau menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 yang sukses, iklim sepak bola (khususnya kompetisi) memang harus dijaga dan dihidupkan. Tentunya, tetap dengan mematuhi protokol kesehatan dan panduan dari pihak yang berwenang," ungkap Kusnaeni.

Kusnaeni menilai kompetisi usia dini juga harus mendapat perhatian di tengah situasi ini.

"Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 jangan dilihat dari sisi timnas senior semata. Tapi harus dipahami secara menyeluruh untuk kepentingan sepak bola nasional. Kalau liga senior digulirkan, kompetisi usia muda juga harus dirawat. Karena ini satu kesatuan yang utuh," ujar kusnaini menambahkan.

Kusnaini yang merupakan seorang komentator nasional sekaligus pengamat sepakbola nasional tersebut menganggap keputusan untuk kembali melanjutkan Liga 1 dan Liga 2 nantinya bisa berdampak positif bagi masyarakat. Namun Kusnaeni berharap pihak berwenang benar-benar memastikan situasi sudah kondusif.

Kusnaeni menyebut kompetisi memiliki dampak lebih besar untuk membantu menghidupkan roda perekonomian. Selain itu, kompetisi juga mengurangi beban psikologis berupa kejenuhan bagi sebagian masyarakat.

"Bagi anak-anak muda yang masih sekolah tapi sekolahnya masih diliburkan, ini juga bisa menjadi penyaluran kegiatan yg positif. Terpenting adalah kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Kalau situasi belum kondusif ya sebaiknya jangan dulu," tuturnya.