Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dana BLT Di Sunat Aparat Desa Hingga RP 500 Ribu, Kok Bisa ?

Warga sumut yang dana bantuannya di potong
Dana BLT Warga Sumut Disunat Aparat Dusun Sampai Rp 500.000 per Keluarga

Nenek Jarni (paling kiri) bersama warga korban penyunatan dana bantuan pemerintah sebesar Rp 600 ribu di Desa Sambi Rejo, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat, 15 Mei 2020.

Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah senilai Rp 600.000 per keluarga, ternyata tidak diterima secara utuh oleh sejumlah warga di Sumut. Warga mengaku dana tersebut dipotong sampai lebih dari separuh oleh petugas.

Di kutip dari Berita satu warga sumut hanya mendapat dana bantuan sebesar RP 150.000 untuk bulan April kemaren

Robi Mustafa (40), yang merupakan warga Desa Sumberejo, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, juga mengaku hanya menerima Rp 150.000 untuk BLT bulan April.

"Awalnya, uang yang kami ambil dari kantor desa sebesar Rp 600.000. Tapi setelah tiba di rumah, kami didatangi kepala dusun bersama stafnya. Mereka meminta uang kembali sebesar Rp 450.000. Jadinya saya hanya menerima Rp 150.000," tutur Robi yang ditemui Beritasatu.com di rumahnya, Jumat (15/5/2020).

Menurut Robi, alasan kepala dusun meminta Rp 450.000 itu untuk dibagikan kepada warga lain yang tidak mendapatkan dana BLT.

“Katanya, banyak warga yang tidak kebagian. Ada sekitar 109 keluarga di sini yang menerima BLT. Saya tak tahu pasti, apakah warga lainnya itu juga dipotong dana BLT mereka," ujar Robi.

Robi mengaku kecewa dan tak terima tindakan aparat dusun yang menyunat hak mereka. Apalagi tak pernah ada pemberitahuan tentang pemotongan dana itu. Namun karena tak ingin terjadi keributan, Robi merelakan pemotongan dengan jumlah besar itu.

Dua tetangga Robi, juga mengalami nasib yang sama. Yakni Nenek Jarni dan Busono, dana BLT mereka dipotong Rp 450.000 sehingga hanya terima Rp 150.000. Alasannya sama, untuk warga lainnya yang tak dapat BLT.

Peristiwa ini pun langsung jadi buah bibir. Polisi langsung turun ke Desa Sambi Rejo. Namun, kepala dusun berinisial R yang mendengar ada polisi datang ke desanya, langsung buru-buru menemui warga dan mengembalikan uang yang telah diambilnya.

Kepala Desa Sumberejo Edward Manik sendiri, membantah adanya penyunatan dana BLT itu. Dihubungi melalui telepon selularnya, Edward mengatakan, dana bantuan itu diambil untuk dibagikan kepada warga tidak terdata sebagai penerima BLT, sebab banyak warga yang tidak menerima.

“Itu bukan penyunatan pak, tapi kepala dusun berupaya membagikan dana yang ada untuk dibagikan ke warga yang belum kebagian," jelasnya.

Keterangan yang dihimpun Beritasatu.com menyebutkan, kasus pemotongan dana BLT juga dialami warga di Desa Buluduri, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi. Nilai BLT yang disunat juga jauh lebih besar sekitar Rp 500.000 per keluarga.

Kasubbag Humas Polres Dairi, Iptu Donni Saleh mengatakan, kasus ini sudah dalam penyelidikan berdasarkan pengaduan Togu Sinaga dengan laporan pengaduan nomor LP/147/V/SU/DR/SPK tanggal 13 Mei 2019.

"Sudah ada satu tersangka yakni Eni Aritonang, perangkat desa di Desa Buluduri. Ia dijerat Pasal 368 KUHP tentang pemerasan. Ada uang sekitar Rp 12,3 juta yang diamankan,” ungkap Donni.


Sumber: BeritaSatu.com

Berlangganan via Email